Pengantar Pasar Modal Syariah

IDX

Sumber Gambar: matanews.com

Keuangan syariah sering dipandang sebagai topik yang eksklusif bagi muslim. Padahal sebenarnya tidak demikian. Keuangan syariah adalah topik muamalah, yang terbuka bagi muslim maupun nonmuslim. Muamalah adalah urusan yang bersifat inklusif. Siapapun dapat mempelajari dan mempraktikkan keuangan syariah, tak peduli apapun kepercayaannya. Salah satu subtopik dalam keuangan syariah adalah mengenai pasar modal syariah.

Adanya pasar modal syariah barangkali menimbulkan tanda tanya. Karena selama ini keuangan dan perekonomian syariah lekat dengan sektor riil. Padahal pasar modal adalah sektor keuangan. Pasar sektor riil adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli komoditas. Sedangkan pasar sektor keuangan adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli uang atau investor dan emiten sekuritas. Sebagai pengantar menuju pasar modal syariah, pada Sabtu, 9 Juni 2012 SAFF STAN menggelar seminar Pasar Modal Syariah di I101-I102 Kampus STAN, dan saya ikut jadi peserta seminar :”3. Berikut ini adalah sedikit catatan dari seminar tersebut.

Pada dasarnya pasar modal syariah adalah pasar yang memperdagangkan efek-efek syariah. Beberapa macam efek syariah adalah:

  1. Saham Syariah
    Efek yang merupakan kepemilikan dalam suatu perusahaan.
  2. Reksadana Syariah
    Kumpulan (portofolio) efek syariah yang dipilihkan manajer investasi bagi investor yang kurang berpengalaman / tidak ada waktu untuk menganalisis pasar modal. Reksadana Syariah berbeda dengan Reksadana Konvensional dalam hal investasinya yang hanya pada efek syariah dan adanya pembersihan pendapatan dari unsur nonhalal.
  3. Sukuk Korporasi
    Sukuk yang diterbitkan emiten korporasi (swasta). Yang membedakan sukuk dengan obligasi adalah sukuk tidak boleh menjanjikan imbalan bunga, imbalannya berupa bagi hasil, sewa, ataupun, marjin. Sukuk tidak dapat diperjualbelikan sebagaimana saham syariah, karena di Indonesia jual beli utang diharamkan.
  4. Sukuk NegaraSukuk yang diterbitkan oleh negara, semacam versi syariah dari Surat Utang Negara.

Efek syariah yang diperdagangkan di Indonesia disertifikasi oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia berdasarkan Fatwa MUI Nomor 80. Kemudian efek tersebut dicantumkan dalam Daftar Efek Syariah yang diterbitkan oleh Bapepam-LK dan transaksinya diawasi oleh Bapepam-LK.

Perkembangan pasar modal syariah yang pesat menjadikan emiten perlu menerbitkan efek syariah untuk menggalang dana lebih besar dari investor. Efek syariah memiliki keunggulan dari segi keluasan jangkauannya. Ia dapat diperdagangkan di pasar modal konvensional maupun syariah (dapat dibeli oleh investor syariah maupun investor konvensional). Sedangkan efek konvensional tidak dapat diperdagangkan di pasar modal syariah.

Jika dilihat dari kacamata agama, pendapat ulama mengenai pasar modal syariah terbagi menjadi tiga:

  1. Halal
    Pasar modal syariah memberikan kontribusi yang besar terhadap perekonomian. Nilai kapitalisasi pasar Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) mencapai separuh dari kapitalisasi pasar BEI. Selain itu pasar modal syariah dianggap tidak memiliki unsur judi, karena di dalamnya berupa non zero sum game. Jika salah satu pihak mengalami loss maka loss tersebut tidak diklaim sebagai gain bagi pihak lain. Misalnya akibat kerugian atau laba dari usaha perusahaan.
  2. Haram
    Pasar modal apapun dianggap tempat perjudian karena adanya unsur ketidakpastian / resiko untung atau rugi, bahkan Bursa Efek Indonesia bahkan pernah didemo karena dianggap pusat perjudian terbesar di Indonesia. Hal ini tidak sepenuhnya tepat. Karena dalam bisnis yang bersifat syariah sekalipun, risiko kerugian adalah hal yang selalu ada.
  3. Halal untuk transaksi tertentu
    Yang dihalalkan hanyalah transaksi yang memenuhi kriteria-kriteria tertentu, misal akad, cara dan kegiatan usaha emiten dari efek yang diperdagangkan sesuai dengan syariah.

Pasar modal syariah bukanlah pasar yang berdiri sendiri. Mekanisme perdagangan dan pencatatan efeknya tidak berbeda dengan pasar modal konvensional. Secara sederhana bisa dibayangkan seperti penjual makanan halal yang syariah berjualan bersama penjual makanan haram di bangunan pasar yang sama. Keberadaan di pasar yang sama, dan mekanisme pencatatan dan perdagangan efek yang sama itulah yang menjadi kesamaan antara pasar modal konvensional dan pasar modal syariah.

Lantas, apa yang membedakan antara kedua pasar modal tersebut? Nah kedua pasar modal tersebut berbeda dalam hal efek yang diperdagangkan. Efek yang memenuhi kriteria syariah untuk diperdagangkan dalam pasar modal syariah disebut efek syariah. Kriteria efek syariah adalah akad, cara, dan kegiatan usaha dari emiten harus sesuai syariah.

Akad dan cara yang tidak syariah yang banyak dilakukan efek konvensional contohnya adalah riba. Selain riba ada pula short selling dan margin trading. Short selling adalah transaksi jual oleh investor yang tidak memiliki (short dalam bahasa Inggris) efek tersebut. Sedangkan margin trading adalah transaksi beli oleh investor dengan nilai efek yang lebih besar dari modal yang dia miliki dengan kekurangannya ditalangi oleh perusahaan sekuritas. Kedua transaksi ini mengandung unsur ketidakpastian yang tinggi dan berpotensi menzalimi.

Kegiatan usaha yang jelas tidak sesuai syariah misalnya lembaga keuangan konvensional baik yang berupa bank, asuransi, pembiayaan dll, penjualan barang atau jasa yang diharamkan atau memberi mudharat besar (bir, babi, dll) maupun kegiatan usaha lain yang tidak sesuai dengan syariah.

Kriteria di atas adalah kriteria menurut fiqih. Tiap-tiap negara dapat menetapkan kriteria tambahan demi kemaslahatan umat berdasarkan ijtihad ulama. Kriteria tambahan tersebut biasanya berupa batasan besarnya rasio keuangan emiten. Di Indonesia, kriteria tambahan tersebut yang berdasarkan fatwa MUI dan ditetapkan oleh Bapepam-LK adalah:

  1. Rasio utang riba (interest bearing debt) dibandingkan dengan total aset setinggi-tingginya adalah 45%
  2. Rasio pendapatan nonhalal (baik riba maupun pendapatan dari kegiatan yang tidak syariah) dibandingkan dengan total pendapatan setinggi-tingginya adalah 10%

Contohnya: Kegiatan usaha utama Astra adalah penjualan kendaraan. Tetapi Astra memiliki anak usaha pembiayaan yang tidak syariah (Astra Finance). Rasio pendapatan nonhalal dari Astra Finance dibandingkan dengan total pendapatan adalah kurang dari 10%. Maka Astra International memenuhi syarat sebagai emiten efek syariah meski Astra International memiliki anak usaha pembiayaan yang tidak syariah selama akad dan cara efek tersebut juga syariah.

Di India kriterianya jauh lebih ketat daripada kriteria di Indonesia yang disebutkan di atas, namun jumlah efek syariah yang diperdagangkan jauh lebih banyak daripada Indonesia. Salah satu hal yang menyebabkan sedikitnya efek syariah di Indonesia adalah kesukaan perusahaan-perusahaan Indonesia dengan utang sehingga rasio utang dibandingkan dengan total aset lebih dari 45%.

Dewasa ini, Bursa Efek Indonesia telah melakukan beberapa terobosan dalam pengembangan pasar modal syariah, di antaranya:

  1. Penerbitan Reksadana Syariah
  2. Peluncuran Jakarta Islamic Index yang memuat 30 saham syariah dan kemudian diluncurkan Indeks Saham Syariah Indonesia yang memuat seluruh saham yang ada di Daftar Efek Syariah.
  3. Sharia Online Trading, yang peluncurannya masih menunggu izin dari Bapepam-LK

Pada akhirnya, pasar modal syariah Indonesia sebagi negara muslim terbesar di dunia diprediksikan akan terus berkembang pesat sesuai dengan tren. Karenanya pengetahuan mengenai pasar modal syariah akan menjadi hal yang makin penting bagi stakeholder-nya.

Iklan

About mawandar

A humanoid interface of the Integrated Data Sentient Entity

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s